Rabu, 10 Juni 2015

krisis cinta dalam pernikahan kristen masa kini

Krisis Cinta   
    
Kidung agung yang indah menganalogikan bahwa cinta yang indah adalah seperti maut yang di meteraikan. Di meteraikan berarti melambangkan sesuatu keabsahan atau keaslian suatu kepemilikan dan hal ini sering di bahas oleh PL dan PB. Contoh; (TB. 1 Raj 21:8; Neh 9:38;) dan PB (TB. Rom 4:11; Ef 1:13; Ibr 1:3). Dan saat ini akan di bahas masalah krisis cinta dalam pernikahan Kristen.

Apa itu krisis
          Krisis adalah suatu keadaan tidak baik, membahayakan atau tidak seperti keadaan semestinya atau dengan kata lain  suram yang tidak harus ada atau terjadi.

Apa itu cinta
          Cinta adalah Peminat, pengagum, Pengasih, Pengairah, Pengemar, Penyayang. Misal; Pemuda-pemudi itu sedang mabuk cinta, Those young people are drunk with love.

Apa itu prnikahan Kristen
          Pernikahan Kristen adalah anugerah yang terjadi bukan karena kehendak manusia melainkan kehendak Allah, sebuah pernikahan hanya boleh jadi karena kehendak Allah semata bukan kehendak manusia karena jikalau sebuah pernikahan terjadi berdasarkan kehendak manusia maka yang perlu harus kembali di ingat ialah manusia tidak pernah sempurna karena yang sempurna hanyalah Allah dan dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berbuat sesuai dengan akal budi manusia sehingga jikalau perbuatan manusia itu baik maka selamatlah pernikahannya tetapi jikalau perbuatan manusia itu buruk maka rusaklah sebuah pernikahan.

          Namun pernikahan Kristen tidaklah sedemikian rupanya dengan pernikahan yang tidak secara Kristen, pernikahan Kristen mengklaim sebuah pernikahan adalah sebagai suatu wadah dimana kedua insane dapat bersatu dan memadukan cinta secara baik dan benar yang berkenan kepada Allah dalam pernikahan ini tidak akan di otak-atik dengan hal-hal yang bersipat merusak suatu hubungan pernikahan misalnya perceraian, mengapa karena dengan demikian sudah merusak citra Allah yang adalah kudus adanya.

          Pernikahan Kristen di bentuk bukan untuk tujuan manusia memuaskan napsu birahi seksual atau sesuatu yang harus di buat karena semua orang laki-laki atau perempuan haruslah hidup berdampingan dengan lawan jenisnya atau pun karena ingin memiliki keturunan, maksud yang demikian adalah salah di mata Tuhan karena bukan itu  tujuan Allah menyatukan kedua insane kedalam pernikahan tetapi melainkan Allah ingin menunjukkan bahwa demikianlah hendaknya manusia mengasihi sesamanya, dan dengan demikian seks bukanlah tujuan utama dalam pernikahan melainkan seks adalah alat atau jambatan untuk kedua insane saling mempererat kasih yang yang sudah Allah nyatakan yaitu kasih. Namun demikian bukan juga berarti seks harus di salah gunakan hanya denngan alasan menunjukan kasih Allah, itu adalah iman yang salah sebab jika demikian maka orang tersebut adalah berzinah dimata Tuhan (Kel 20:14).
        
          Berikut ini mengenai cinta apakah boleh pernikahan di putuskan, pernikahan adalah anugerah Allah bukan hasil usaha manusia untuk mencari pernikahan atau menikahkan diri, peristiwa manusia pertama Adam, mengenai pernikahannya suatu hari ketika adam tinggal di taman eden maka di lihatnya lah segala sesuatu berpasangan dan hanya dirinya saja yang sendiri tidak berpasangan manusia itu kesepian, lalu melihat hal itu maka Allah membuat manusia itu tertidur lalu menjadikan perempuan sebagai pasangannya dari tulang rusuknya sendiri, dan jelas Allah di situ tidak menciptakan perempuan itu untuk adam melampiaskan hawa nafsunya melainkan teman hidupnya, (Kej 2:20-23). Dan dengan demikian maka alkitab tidak pernah mencatat bahwa adam dan hawa boleh bercerai dan bahkan di dalam perjanjian baru rasul paulus pun menjelaskan mengenai suatu keadaan mengenai perkawinan di korintus yaitu tidak boleh ada perceraian (1 Kor 7:10). Dan Firman Allah sendiri ialah apa yang telah di persatukan allah tidak boleh di ceraikan oleh manusia. (Mat 19:6).

          Rasul paulus sudah berbicara di korintus mengenai tidak boleh bercerai dan firman Allah pun berbunyi apa yang di persatunya tidak boleh di ceraikan namun bagaimana faktanya saat ini, dewasa ini faktanya tidak sama dengan maksud Allah, manusia tidak melihat petunjuk dan maksud allah tetapi manusia lebih kepada sifat kedagingannya, mengapa demikian ini semua ialah berasal dari bagaimana kasihnya, jikalau kasihnya baik maka cintanya tetap kuat dan pernikahan akan tetap baik tetapi jika kasihnya kurang baik maka akan menimbulkan krisis cinta dalam pernikahan.
 
Mengapa sampai terjadi krisis cinta dalam pernikahan
          Dewasa ini bukan saja krisis berbicara masalah keuangan saja tetapi juga berbicara masalah cinta, dan mengapa sampai terjadi krisis dalam percintaan, berikut ini adalah ulasannya.


1. Ketidak siapan dalam memsauki masa pernikahan

          Hal-hal berhubungan ketidak siapan memasuki masa pernikahan ini kadang terselubungi atau tersembunyi, tidak nyata namun pada akhirnya akan kelihatan, ketidak siapan dalam hal ini hanya di tunjukkan dengan oleh seseorang melalui gaya hidupnya dan emosinya, seseorang akan sangat malu untuk menjelaskan bahwa dirinya belum siap dalam menjalani suatu hubungan pernikahan dan jika mungkin sepertinya siap mungkin saja karena gengsi.
Perkawinan dan kedudukan sebagai orang tua sebelum orang muda menyelesaikan pendidikan mereka dan secara ekonomis independen membuat mereka tidak mempunyai kesempatanuntuk mempunyai pengalaman yang di punyai oleh teman-teman yang tidak kawin atau orang-orang yang telah mandiri sebelum kawin. Hal ini mengakibatkan iri hati dan menjjadi  halangan dalam penyesuaian perkawinan.


2. Beban dan tanggung jawab semakin bertambah

          Tanggung jawab terlalu banyak pekerjaan yang terlalu berat. Atau pelunya membuat keputusan yang mempengaruhi hidup orang lain cendrung menimbulkan stres dan memperlemah kepuasan terhadap pekerjaan.

3. Tidak menikmati keindahan Seks

          Sekali lagi seks bukan tujuan utama dalam pernikahan Kristen karena seks adalah sebagai alat atau jembatan yang akan memperkuatkan cinta dalam pernikahan Kristen namun kaitannya adalah sangat siknifikan denagan seks yang di mana jika seseorang sudah tidak menikmati seksnya maka di situlah akan mulai kebosanan sehingga tidak menikmatinya, dalam hal ini bukan masalah menghakimi bahwa pihak laki-laki atau perempuan yang tidak kuat dalam bercinta tetapi bagaimana kedua belah pihak sama-sama dapat mempokuskan diri dan berkonsentrasi dalam melakukan hubungan seks sehingga tidak menjjadi hambar karena tidak mendapat perhatian secara  khusus.

          Hubungan seks suami istri sering menjadi tawar ketika mereka telah menikah. Mereka jadi jarang melakukan hubungan seks lagi. Padahal semasa awal pernikahan mereka mengebu-gebu dalam hal ini. Mungkin kalau ditanyakan penyebabnya mereka pasti mengatakan terlalu sibuk untuk hal lainnya sehingga bila ingin melakukan hubungan seks sudah-enggan-karena-kecapaian.
Sebenarnya ini hanyalah alasan belaka. Inti persoalannya mungkin bukanlah hal tersebut.

          Inti penyebab masalah tersebut adalah seringnya pria merasa ditolak oleh istrinya dan hilangnya rasa kemesraan yang diinginkan oleh seorang istri yang tidak diperolehnya dari suaminya. Bagi seorang pria seks merupakan cara untuk memperoleh dan merasakan cinta dari pasangannya, berbeda dengan wanita yang perlu merasakan cinta terlebih dahulu barulah ia-dapat-menikmati-seks-dengan-suaminya.

          Seringnya pria mendapat penolakan dari istrinya karena istri tidak mood membuat para suami menjadi kecewa dan dia enggan untuk meminta seks lagi kepada istrinya. Oleh karena itu sering didapati para pria yang berselingkuh dengan wanita lain karena ia mendapatkan penerimaan dari wanita lain dan tidak demikian dengan istrinya. Pria juga tidak menyadari bahwa wanita memerlukan kemesraan dan rasa disayang sebelum dia mendapat mood dalam melakukan hubungan seks dengan suaminya.

          Jadi perlu dibina komunikasi yang baik, positif diantara suami istri sehingga setiap kali istri tidak mood melakukan hubungan seks, pria tidak merasa ditolak.

          Ketika memutuskan untuk menikah, tiap pasangan sesungguhnya memutuskan untuk menerima tantangan. Problem perkawinan berawal dari kegagalan mengelola tantangan perkawinan. Sehingga kenyataan menunjukkan ada pasangan yang bahagia, ada yang tidak. Yang bahagia belum tentu tidak diganggu persoalan, tetapi mereka berhasil mengatasinya.
Salah satu persoalan yang sering muncul dan kerap menjadi ganjalan bagi suami istri adalah masalah seksual. Kehidupan seksual merupakan salah satu aspek dalam pernikahan/perkawinan. Ini merupakan suatu bentuk komunikasi yang paling dalam dan indah, tentu saja kalau kehidupan seksual ini berlangsung harmonis.

          Untuk membina kehidupan seksual yang harmonis, suami istri harus menyadari bahwa hubungan seksual yang harmonis sesungguhnya memerlukan proses belajar. Karena hal ini tidak dapat dicapai begitu saja dengan sendirinya.

          Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, seorang seksolog dalam makalahnya yang berjudul “Membina Kehidupan Seksual yang Harmonis Untuk Kebahagiaan Perkawinan” (Juni 2000), memberikan beberapa saran untuk mencegah timbulnya masalah seksual yang seringkali menyiksa pasangan suami istri, yakni: Ingatlah bahwa kualitas hubungan seksual sangat ditentukan oleh apa yang terjadi sebelumnya.